Sabtu, 16 Oktober 2010

TEKNIS MELAKUKAN USAHA

Hal-hal yang harus anda siapkan untuk memulai bisnis ini adalah sebagai berikut :
  • Tentukan konsep bisnis anda apakah hanya memproduksi donat ataukah sekaligus sebagai penjual yang mendistribusikan donat ke warung atau toko .
  • Siapkan tempat produksi donat yang memadai
  • Siapkan beberapa orang karyawan untuk membantu proses produksi dan membantu mendistribusikan donat .
  • Miliki pengetahuan mengenai resep donat yang paling enak dan cara pengolahannya dalam jumlah masal dengan baik.
  • Aturlah waktu kerja dalam memproduksi donat. Misalnya, Jika untuk di pasarkan pada pagi hari, berarti anda harus sudah memproduksi donat pada malam hari atau subuh.
  • Siapkan bahan baku yang berkualitas baik beserta segala peralatannya. Anda dapat mencari tahu informasi grosir penjual bahan baku donat dengan harga rendah agar dapat menekan biaya produksi .

Cara Membuat Kue Donat
Bahan-bahan:
  • Tepung terigu tinggi protein/hard wheat/cap cakra kembar1400 g
  • Tepung terigu protein sedang/medium wheat/cap segi tiga biru 600 g
  • Ragi instan/instan yeast (fermipan) 30 g
  • Gula pasir 250 g
  • Margarin (blueband)300 g
  • Air es 900 ml
  • Telur (kuning & putih) 200 g
  • Susu bubuk (indomilk bubuk) 60 g
  • Baking powder 20 g
  • Bread Improver (unipan) 1 sdt
  • Vanili bubuk/pasta 1/2 sdt
  • Garam halus 25 g
  • minyak untuk menggoreng
  • Olesan:
  • Dark cooking chocolate/cokelat blok hitam, tim hingga meleleh 400 g
  • White cooking chocolate/cokelat blok putih, tim hingga meleleh 200 g
   
Cara Membuat:
  1. Campur tepung terigu, ragi instan, susu bubuk, gula pasir, telur, baking powder, bread improver, vanili dan garam. Aduk rata. Tuang air dan margarin, aduk dengan mixer roti kecepatan 2 selama 12 menit atau hingga adonan kalis. Pengadukan bisa dilakukan manual dengan tangan hingga adonan kalis.
  2. Bulatkan adonan, diamkan di tempat yang hangat dan tertutup selama 30-60 menit atau hingga adonan mengembang dua kali lipat. Kempeskan adonan.
  3. Giling adonan dengan ketebalan 1 cm. Cetak dengan cetakan donat. Lakukan hingga adonan habis.
  4. Diamkan adonan yang telah dibentuk selama 40 menit. Panaskan minyak, goreng adonan donat hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat. Dinginkan.
  5. Siram donat dengan cokelat tim. Beri motif garis dengan white cooking chocolate. Atur di dalam piring saji. Hidangkan.

    http://www.sentrakukm.com/skim/WUB/Donat/teknis.php

PROSES PRODUKSI TENAGA LISTRIK

BATUBARA, sebagai bahan bakar utama Pembangkit Suralaya berasal dari Tambang batubara Bukit Asam,Sumatera Selatan.
BOILER, masing-masing boiler membutuhkan 1,500 ton air.Uap yang keluar dari boiler pada tekanan 174 kg/cm2 dan 540 derajat Celcius.
TURBIN & GENERATOR, uap dialirkan ke turbin.Masing-masing turbin untuk unit 1,2,3 & 4 berkapitas 400 MW dan 600 MW untuk unit 5,6 & 7.Masing-masing turbin dihubungkan langsung dengan generator.Tegangan yang dihasilkan dinaikkan dari 23,000 volt menjadi 500,000 volt dengan menggunakan trafo sebelum disalurkan ke sistem jaringan.
PENDINGIN, uap yang melewati turbin akan didinginkan dan dikondensasikan menjadi air di dalam kondensor sebelum dikembalikan ke boiler.Kondensor sendiri didinginkan oleh air yang dipompakan dari air laut.

ABU DAN DEBU, beberapa batubara yang terbakar jatuh ke bagian bawah boiler di mana nantinya dikumpulkan dan dijual untuk pembuatan bahan bangunan.Lebih dari 99,5% debu ditangkap oleh electrostatic precipitators (ESP).Pada elektron dilepaskan ke batangan berbentuk saringan sehinnga partikel yang halus yang lewat ditarik ke saringan tersebut dan kemudian dapat dikumpulkan secara proses mekanik.Serbuk abu batubara memiliki beberapa macam penggunaan,dari proyek pembuatan jalan sampai dengan bahan semen untuk pembuatan beton.


http://www.suralaya.com/proses-produksi.html

Konsumen

Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.[1] Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumen

Kenali Konsumen Anda (3) Si Panda Pendiam

Kepribadian Panda yang lembut ini biasanya lebih mendahulukan kepentingan kelompok atau rekan kerjanya dibandingkan prestasi kerja pribadi. Mereka terkesan sangat pendiam jika dibandingkan dengan karakter konsumen lainnya sehingga sangat sulit untuk "dibaca". Selain itu, konsumen Panda dikenal dengan sifatnya yang suka menunda keputusan terutama dalam hal pembelian.

Bukan hal yang mudah bagi Panda untuk membuat perubahan-perubahan dalam hidupnya karena -bagi Panda- keteraturan dan keamanan sangatlah penting untuk terus dipertahankan. Mereka juga seringkali mempertimbangkan faktor kepentingan kelompok atau organisasi.

Untuk menangani konsumen dengan karakter Panda, presentasi penjualan harus dilakukan secara bertahap dan selalu fokus pada solusi untuk kepentingan kelompok atau organisasi mereka. Penting juga untuk mengurangi faktor resiko yang bisa menghambat proses pengambilan keputusan Panda. 


http://www.dexton.adexindo.com/artikel-agustus3-kenali-konsumen-panda.html

Konsumen XL diimbau pakai voucher elektronik

Konsumen XL diimbau pakai voucher elektronik
 
JAKARTA (Bisnis): YLKI menyarankan pelanggan kartu prabayar PT Exelcomindo
Pratama (XL) sementara menghindari pengisian ulang pulsa secara fisik,
menyusul dicurinya voucher pulsa bernilai ratusan juta rupiah milik operator
seluler tersebut.
 
"Besar kemungkinan voucher curian tersebut bakal beredar di masyarakat.
Agar konsumen tidak dirugikan, ada baiknya mereka melakukan pengisian pulsa
secara elektronik dulu," ungkap Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) Daryatmo kepada Bisnis di Jakarta kemarin.
 
Menurut dia, jika kartu tersebut telah terlanjur beredar di pasar maka besar
kemungkinan akan dibeli oleh para pelanggannya. Pada saat yang sama, kata
dia, XL sebaiknya melakukan penelusuran peredaran voucher curian di pasaran.
 
Pernyataan Daryatmo tersebut menanggapi hilangnya 8.122 lembar voucher isi
ulang XL dengan dengan nominal Rp35.000, Rp50.000, Rp100.000 dalam kasus
pencurian di gudang Jelambar, Jakarta Barat. Total pulsa yang raib senilai
Rp479,06 juta.
 
Pihak XL sendiri kemarin telah mengumumkan kehilangan tersebut melalui
beberapa media cetak. Manajemen menyatakan voucher yang hilang tidak berlaku
dan menolak bertanggung jawab jika voucher tersebut diperdagangkan kemudian
hari.
 
Berdasarkan pengumuman, voucher yang hilang tersebut meliputi 2.549 lembar
bernominal Rp35.000, 3.349 lembar bernominal Rp50.000, serta sisanya 2.224
lembar senilai Rp100.000 ribu.
 
Menurut Mirwan Suwarso, General Manager Corporate Communications XL,
kehilangan terjadi pada 9-10 Februari lalu. "Saat itu memang pas libur dua
hari berturut-turut. Kami sudah laporkan kasus ke Kepolisian."
 
Dia mengatakan dengan mengumumkan kepada publik, XL bermaksud melindungi
pelanggan agar tidak membeli voucher isi ulang yang besar kemungkinan segera
beredar di pasar. Mirwan menyarankan agar pelanggan membeli voucher pulsa
isi ulang dari jalur yang benar.
 
"Para pencuri barangkali mengira, voucher fisik tersebut ada nilainya.
Padahal begitu kehilangan terjadi kami langsung memblokirnya," kata dia.
 
Sementara Daryatmo menilai langkah mengumumkan ke publik tersebut efektif
dalam melindungi konsumen. Namun dia menegaskan agar segera dilakukan
penelusuran leibh jauh jika ditemukan kasus kegagalan mengisi pulsa.
 
XL merupakan operator seluler terbesar ketiga di Indonesia dengan 4,5 juta
pelanggan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar yakni 4,4 juta pelanggan
adalah pemegang katu prabayar. (htr
 
http://www.mail-archive.com/bonsi97@yahoogroups.com/msg00171.html 

PERILAKU KONSUMEN DAN TINDAKAN PEMASARAN

TIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN KONSUMEN
1).Konsumen Individu Pilihan merek dipengaruhi oleh ;
Kebutuhan konsumen,  Persepsi atas karakteristik merek, dan Sikap kearah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.
2).Pengaruh Lingkungan Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh
Budaya (Norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan. Kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen),  Grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan (
3. Faktor menentukan yang situasional ( situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).
Marketing strategy Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah : Barang,  Harga, Periklanan dan Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan.
Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek.
Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen. Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi. Panah umpan balik mengarah kembali kepada organisasi pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian dimasa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran kearah pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tipologi pengambilan keputusan konsumen : 1. Keluasan pengambilan keputusan ( the extent of decision making) Menggambarkan proses yang berkesinambungan dari pengambilan keputusan menuju kebiasan. Keputusan dibuat berdasrkan proses kognitip dari penyelidikan informasi dan evaluasi pilihan merek. Disisi lain, sangat sedikit atau tidak ada keputusan yang mungkin terjadi bila konsumen dipuaskan dengan merek khusus dan pembelian secara menetap. 2. Dimensi atau proses yang tidak terputus dari keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi ke yang rendah. Keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi adalah penting bagi konsumen. Pembelian berhubungan secara erat dengan kepentingan dan image konsumen itu sendiri. Beberapa resiko yang dihadapi konsumen adalah resiko keuangan , sosial, psikologi. Dalam beberapa kasus, untuk mempertimbangkan pilihan produk secara hati-hati diperlukan waktu dan energi khusus dari konsumen. Keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah dimana tidak begitu penting bagi konsumen, resiko finansial, sosial, dan psikologi tidak begitu besar. Dalam hal ini mungkin tidak bernilai waktu bagi konsumen, usaha untuk pencarian informasi tentang merek dan untuk mempertimbangkan pilihan yang luas. Dengan demikian, keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah umumnya memerlukan proses keputusan yang terbatas “ a limited process of decision making”. Pengambilan keputusan vs kebiasaan dan keterlibatan kepentingan yang rendah vs keterlibatan kepentingan yang tinggi menghasilkan empat tipe proses pembelian konsu men. EMPAT TIPE PROSES PEMBELIAN KONSUMEN : 1. Proses “ Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk men gevaluasi dan mempertimbangkan piihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran. 0. Proses “ Brand Loyalty “. Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.
Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia. 2. Proses “ Limited Decision Making “. Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabila resikonya minimal. Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi. 3. Proses “ Inertia “. Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertyas tisu.
Keempat proses tersebut digambarkan sebagai berikut :
Pengambilan keputusan konsumen menghubungkan konsep perilaku dan strategi pemasa ran melalui penjabaran hakekat pengambilan keputusan konsumen. Kriteria apa yang digunakan oleh konsumen dalam memilih merek akan memberikan petunjuk dalam manajemen pengembangan strategi. Pengambilan keputusan konsumen adalah bukan proses yang seragam. Ada perbedaan antara pengambilan keputusan dan keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang tinggi dan keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang rendah.
I. PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG KOMPLEK ( COMPLEKS DECISION MAKING) Untuk memahami keputusan yang komplek maka perlu dipahami hakekat keterlibatan konsumen dengan suatu produk. Kondisi keterlibatan konsumen akan suatu produk, apabila produk tersebut adalah :
1. Penting bagi konsumen karena image konsumen sendiri, misalnya pembelian mobil sebagai simbol status.
2. Memberikan daya tarik yang terus menerus kepada konsumen, misal dalam dunia mode ketertarikan konsumen model pakaian.
3. Mengandung resiko tertentu, misal resiko keuangan untuk membeli rumah, resiko teknologi untuk pembelian komputer.
4. Mempunyai ketertarikan emosional, misal pencinta musik membeli Sistem stereo yang baru. 5. Dikenal dalam kelompok grupnya atau “ badge “ value dari barang yang bersangkutan, seperti jaket kulit, mobil marsedes atau scarf dari Gucci. Gambar 2.1 Model keterlibatan konsumen :
Tipe Keterlibatan :
1. Situational involvement. Terjadi hanya dalam situasi khusus dan sementara dan umumnya bila pembelian itu dibutuhkan. Misalnya keputusan mengambil pendidikan MBA adalah karena kabutuhan untuk pekerjaan.
2. Enduring involvement, terus menerus dan lebih permanen umumnya terjadi karena ketertarikan yang berlangsung terus dalam kategori produk, walaupun pembelian itu dibutuhkan atau tidak, misalnya ketertarikan pada baju. Baik enduring maupun situational involvement merupakan hasil proses pengambilan keputusan yang kompleks. “Badge” value adalah suatu kondisi dimana mencakup keterlibatan situasional dan keterlibatan yang menetap.

http://ocktaviani.wordpress.com/2009/12/10/artikel-perilaku-konsumen/

Konsumen Pecas Ndahe

Perilaku konsumen telah berubah. Sebelum membeli, mereka memanfaatkan Internet untuk membandingkan satu produk dengan produk lain. Konsumen semakin cerdas?
Bulan purnama membuat Sabtu pekan lalu terasa sangat lengas. Hawa panas menerpa sepanjang hari, membuat saya malas keluar rumah. Kebetulan juga karena sedang bokek, sekalian saja saya melewatkan weekend di rumah saja.
Iseng-iseng saya menyalakan televisi dan menemukan acara bincang-bincang yang menarik perhatian di Metro TV. Dipandu oleh Desy Anwar, acara itu menampilkan dua pembicara: Hermawan Kertajaya dan Philip Kotler. Tak sulit ditebak. Dari profil kedua pembicara ini sudah jelas terlihat bahwa tema bincang-bincang pasti mengenai pemasaran.
Benar saja. Begitu menyimak perbincangan mereka, saya tahu bahwa mereka memang tengah membahas perihal ilmu marketing dan perilaku konsumen masa kini.
Aha! Saya bukan ahli pemasaran seperti Hermawan atau Kotler. Pun bukan penulis blog mengenai marketing seperti , Nukman Luthfie yang kemlinthi tapi baik hati itu.
Nukman who? Ealah, sampean ndak kenal? Wah, kelewatan …
Oke. Ndak apa-apa. Saya toh bukan hendak membahas soal Nukman. Saya hanya ingin berbagi cerita dengan sampean tentang acara bincang-bincang itu.
Sayang sekali, saya ternyata sudah tertinggal tayangan itu beberapa menit. Saya hanya kebagian sedikit bagian ketika Kotler tengah menjelaskan fenomena perubahan perilaku konsumen dan konsekuensinya bagi para produsen.
“Produsen dituntut untuk terus meningkatkan kualitas produk mereka, dan metode pemasaran baru. Iklan saja tidak cukup. Di televisi, misalnya, sepotong iklan tak banyak menyediakan informasi mengenai sebuah produk,” kata Kotler.
Di sisi lain, konsumen semakin pintar. Sebelum membeli sesuatu, mereka akan bertanya ke kiri dan kanan, juga melakukan semacam survei, riset kecil-kecilan.
The world is flat. Horizontal marketing menjadi kata kunci.
Kotler lalu memberi contoh. Ketika hendak membeli mobil, misalnya, dia akan mencari informasi di Internet. Ia memanfaatkan Google, membuka satu demi satu blog yang mengulas masalah otomotif, Youtube, menelusuri mailing-list, dan situs-situs tentang mobil.
Setelah merasa mendapatkan cukup informasi tentang sebuah mobil, baru dia mendatangi showroom atau dealer untuk uji kendara (d/h test drive). “Tapi, meski sudah merasa cocok, saya tak akan langsung membeli mobil itu,” kata Kotler.
Ia akan pulang ke rumah dan kembali mengakses Internet untuk mencari penjual mobil yang menawarkan harga termurah. Ia membuka-buka situs penjual mobil, bahkan Facebook.
“Di Facebook saya memasang status, sebuah pertanyaan untuk teman-teman yang pernah memakai atau memiliki mobil yang saya mau. Bagaimana pendapat mereka tentang mobil itu? Lalu mereka mengirim respons. Dan saya mendapatkan informasi berlimpah sampai akhirnya saya benar-benar memutuskan membeli mobil.”
Meski bukan ahli pemasaran atau pengamat perilaku konsumen, saya merasa ilustrasi yang dituturkan Kotler sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Para pengguna Internet, juga blogger, memang selalu mencari informasi tentang sebuah produk sebelum membeli. Di era web 2.0 ini, sebelum membeli sesuatu, kita akan bertanya ke sesama teman dan ke Google.
Kalau dirasa masih kurang yakin, kita — para konsumen masa kini — akan memanfaatkan media-media sosial dan jejaring sosial untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai sebuah produk, merek, atau layanan. Membandingkan satu dengan yang lain. Terutama ketika mereka hendak produk teknologi, seperti kamera digital, kamera video, handphone, komputer, atau laptop.
notebook ndoro kakung
Tanpa saya sadari, saya pun saya telah melakukannya. Ketika hendak mengganti notebook Acer Aspire 5583 NWXMI saya yang sudah jadul itu, saya membuka-buka blog-blog beberapa kawan yang saya tahu biasa menulis tentang teknologi. Saya ingin mengetahui pendapat mereka tentang merek-merek notebook di pasar.
Saya juga membongkar koleksi Youtube untuk mencari aneka video presentasi soal notebook. Saya bandingkan satu demi satu kelebihan dan kekurangan setiap notebook. Saya bahkan menemukan sebuah riset tentang 10 hal yang paling diinginkan konsumen dari sebuah notebook.
Pendek kata, saya berusaha menjadi konsumen yang cerdas. Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, dari mana saja, sebelum memutuskan membeli sesuatu. Bersyukurlah ada Internet yang membantu saya memperoleh informasi yang saya butuhkan.

http://rumahmadina.com/blog-artikel-umum/konsumen-pecas-ndahe/